Tari Erotis Warnai Festival Musik Tradisi Pelajar

- Dirut PT Karya Mawar Lestari Jadi Tahanan Kota
- Ratusan Motos Dinas Kades Ditarik
- Agus Ingin Jadi Koreografer Tari Nasional
- Palangkaraya Juara Umum Festival Qasidah
- Festival Nasyid Ruang Berekspresi Bagi Pemuda
- 14 Group Ikuti Festival Mamanda FE Unlam
BANJARMASINPOST.CO.ID, MATARAM - Maksud hati hendak
melestarikan musik tradisi di kalangan pelajar, sebuah festival musik
tradisi pelajar se-Kota Mataram yang digelar Dikpora Kota Mataram,
justru diwarnai dengan tarian berbau erotis yang belum pantas untuk
ditonton apalagi dimainkan kalangan pelajar.
Tabuhan gendang dan
lengking suara suling yang dimainkan sejumlah pelajar menghentak ruang
sanggar tari taman Budaya Mataram Rabu (29/11/2012) siang itu.
Penonton yang didominasai anak-anak pelajar SD dan SMP langsung bergoyang mengikuti irama musik.
Dua
orang penyanyi melantunkan lagu "Ale-ale", sebuah lagu berbahasa Sasak
yang cukup dikenal luas di Pulau Lombok. Syair lagu tak begitu penting,
tapi irama musik yang menghentak dan goyangan dua orang penari mengajak
beberapa rekan sesame pelajar lainnya untuk mau ke tengah arena dan
ikut bergoyang.
Sayangnya, goyang penyanyi dan penari yang masih
di bawah umur ini terjebak mengikuti gaya penari di televisi yang
terkesan erotis dan selama ini mengundang pro dan kontra.
Setidaknya
ada tiga lagu yang dimainkan kelompok pelajar itu dan ketiga lagu itu
selalu dibarengi dengan goyangan yang belum pantas mereka lakukan.
Akan
tetapi sejumlah guru dan panitia yang ada di arena itu hanyabisa
terdiam. Sebagian tampak tersenyum, sebagian lagi ikut bergoyang dan
bertepuk tangan menyemangati.
"Saya sendiri tak bisa menerima
tarian yang dilakukan anak-anak itu. Sebenarnya itu di luar festival.
Mereka hanya diminta mengisi kekosongan acara sambil menunggu pengumuman
juri. Tapi saya kan bukan panitia," kata Andreas Suwandi, salah seorang
guru pendamping peserta festival.
Musik "Ale-Ale" yang dimainkan
salah satu kelompok pelajar hari itu adalah pengisi waktu lowong saat
dewan juri tengah berembuk menentukan para penyaji terbaik.
Acara
intinya bertajuk "Festival Musik Cilokak dan Gule Gending, Pelajar SD,
SMP, SMA/ SMK se-Kota Mataram". Ada belasan kelompok musik pelajar yang
ikut ambil bagian dalam festival itu.
Terkait tarian anak-anak
yang erotis di sela festival tersebut, Made Swatika Negara, Kabid PNFI
Dikpora Kota Mataram, mengaku kecolongan.
"Itu di luar kontrol
saya. Kalau saya lihat, pasti saya minta dihentikan. Tapi, itu di luar
agenda acara festival ini. Itu di luar kontrol saya," katanya.
Menurut Swastika, semua itu bisa terjadi karena pengaruh hiburan yang diterima anak-anak melalui televisi.
"Saya
benar-benar tidak tahu, tapi itu semua terjadi karena tontonan
anak-anak yang selama ini juga tidak terbendung, termasuk tontonan di
televisi. Festival ini untuk melahirkan penyaji terbaik di bidang musik
tradisi dan ini merupakan program tahunan. Masukan tadi akan menjadi
bahan evaluasi kami," katanya.
Abdul Hamid Hamzah, salah seorang
seniman musik tradisi Lombok yang juga bertindak sebagai salah seorang
dewan juri festival menyatakan bahwa musik Ale-Ale bukanlah music
tradisi.
"Musik Ale-ale ini belum ada KTP-nya," kata Hamid.
Menurut Hamid kemunculan musik dan tarian Ale-ale dalam festival bagi
pelajar itu bukanlah kesalahan para pelajar, melainkan tanggung jawab
para guru dan pembina musik di sekolah mereka.
"Kalau saya tidak
menyalahkan anak-anak. Anak-anak itu kan hanya menerima, yang punya
peran adalah bapak dan ibu guru pembinanya," ujar dia.
Festival
Musik Cilokak dan Gule Gending, Pelajar SD, SMP, SMA/ SMK se-Kota
Mataram, terbilang kegiatan yang positif untuk menumbuhkan kecintaan
kalangan pelajar terhadap seni tradisi di daerah mereka, sayang jika
acara itu harus tercemari budaya yang tidak pantas bagi kalangan
pelajar.
insinyur musik, insinyur vokal, insinyur tari. Kalau tidak dari sekarang
kita benahi, mungkin kita akan terlambat," kata Abdul Hamid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
PEDOMAN SEBELUM KOMENTAR
Kami sangat senang atas semua tanggapan anda terhadap artikel yang kami muat bangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, segera laporkan ke Admin kami.
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.
Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar