Masuk

Sabtu, 01 Desember 2012

Kematian Masih Membayangi Persalinan






Kematian Masih Membayangi Persalinan








Persoalannya bermula dari indikator MDG itu sendiri. Ketika para kepala negara bertemu pada
September 2000 mendeklarasikan MDG, tujuan kelimanya adalah sangat mulia: memperbaiki kesehatan ibu.

dr Pribakti B




Oleh: dr Pribakti B

Coba perhatikan perlakuan masyarakat terhadap orang yang meninggal. Selain melakukan pemberitahuan lewat pengeras suara di musala atau masjid-masjid, pengurus RT/RW langsung memasang bendera kuning/hijau di wilayah sekitar rumah orang yang meninggal.

Keluarga terdekat dan tetangga langsung mengunjungi keluarga yang meninggal dan memberi sedekah seikhlasnya. Orang sekitar pun  dengan suka rela membantu berbagai hal terkait dengan urusan jenazah dan mengantarnya sampai ke peristirahatan terakhir.

Kalau di kota-kota, kita akan lihat bagaimana para pengantar jenazah “membantu” mengamankan jalan yang dilalui dengan membunyikan sirene mobil sehingga orang yang meninggal itu bisa sampai di peristirahatan terakhir dengan cepat dan aman.

Bayangkan kalau saja masyarakat kita punya perhatian yang sama terhadap ibu yang akan melahirkan. Bisa jadi ketua  RT/RW akan memberi tanda di rumah-rumah yang mempunyai ibu hamil, bahkan tanda khusus pada waktu akan melahirkan.

Maka orang-orang sekitar menyumbang untuk meringankan biaya melahirkan dan suka rela membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan melahirkan, seperti berjaga jaga, menyediakan berbagai perlengkapan yang diperlukan, menyiapkan kendaraan yang bisa dipakai begitu tanda-tanda melahirkan untuk memanggil penolong persalinan maupun mengantarnya ke polindes,  klinik bersalin  atau rumah sakit.

Sesungguhnya tingginya angka kematian ibu (AKI) mungkin menunjukkan bahwa perhatian masyarakat terhadap keluarga ibu yang akan melahirkan belum besar. Perhatian kita malahan baru besar kalau ibu itu kemudian meninggal dalam proses melahirkan.

Dengan berbagai program pemerintah yang ada, mulai program Safe Motherhood, MPS (making pregnancy safer), sampai GSI (gerakan sayang ibu), kelihatannya AKI itu masih jauh di atas target MDG (Milenium Development Goal) tahun 2015, yaitu sekitar 125 per 100 ribu kelahiran hidup.

Mengapa?
Persoalannya bermula dari indikator MDG itu sendiri. Ketika para kepala negara bertemu pada September 2000 mendeklarasikan MDG, tujuan kelimanya adalah sangat mulia: memperbaiki kesehatan ibu.

Tetapi, begitu tujuan itu diterjemahkan menjadi ukuran keberhasilan, berubahlah menjadi dua indikator, yaitu indikator angka kematian ibu dan persentase kelahiran yang ditangani oleh tenaga kesehatan. Orang lupa bahwa pilihan indikator menentukan kebijakan yang akan dipilih dan program yang akan dijalankan.

Indikator sering kali menentukan agenda pemerintahan dan diskusi yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, tidak usah heran maka kini dinas kesehatan kota/kabupaten/provinsi mati-matian menjalankan program agar seluruh kelahiran ditangani oleh tenaga kesehatan.

Ribuan bidan di desa dilatih dan disebar, namun yang benar-benar tinggal di desa kita tidak jelas. Sementara gedung polindes belum siap. Kalaupun ada tidak layak huni,  mau bangun polindes tak ada tanah desa, mau sewa rumah di desa tidak ada juga karena biasanya hanya rumah itu satu-satunya yang dimiliki orang desa. Akhirnya sang bidan desapun bolak balik alias tidak tinggal di desa selama 24 jam.

Umumnya para pakar ahli kesehatan masyarakat mengategorikan masalah tingginya angka kematian ibu itu dalam sebutan ‘tiga terlambat’ (3T), yaitu terlambat mengenali bahaya dan memutuskan mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan; terlambat membawa ibu ke fasilitas rujukan; dan terlambat memperoleh tindakan yang tepat di fasilitas rujukan.

Penekanan kita pada penyediaan bidan desa, puskesmas PONED (pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar), dan rumah sakit PONEK (pelayanan obstetri neonatal emergensi komprehensif) menunjukkan bahwa kita fokus hanya pada T yang terakhir.

Padahal, kalau masalah kita adalah T yang pertama, yaitu banyaknya keluarga yang tidak bisa mengenali bahaya ibu hamil atau melahirkan (soal pengetahuan) atau keluarga kurang perhatian/ peduli dan menganggap kehamilan seperti masalah sehari-hari (soal kesadaran), maka penyediaan fasilitas pelayanan menjadi tidak efektif. Sama saja menyediakan tempat pesta, tapi lupa menyebar undangan.

Tetapi, itulah penyakit kita: mencari jawaban yang mudah atas soal yang kompleks. Menyediakan sarana pelayanan memang jauh lebih mudah daripada mendidik masyarakat untuk bertanggung jawab atas kesehatan keluarganya.

Lebih dari itu, penerjemahan lain atas tingginya masalah kematian ibu melahirkan dalam ‘empat terlalu’ (4T), yaitu terlalu muda menikah, terlalu sering hamil, terlalu banyak melahirkan, dan terlalu tua untuk hamil, menunjukkan bahwa barangkali kita salah timing dalam menangani masalah ini.

Solusi masalah ini barangkali terletak pada bukan bagaimana menangani ibu yang telah hamil dan akan melahirkan, tetapi pada bagaimana menangani kesehatan serta kesejahteraan ibu yang tidak hamil.

Seperti isu di sini dari soal-soal sekitar seks (memisahkan rekreasi dari kehamilan), kesehatan (menyehatkan ibu sehabis hamil sebelum hamil kembali), sampai ke soal sosio budaya: pernikahan di bawah umur dan keluarga berencana.

Sebab terlibatnya berbagai isu mengenai kesehatan ibu hamil dan ibu melahirkan ini menunjukkan bahwa kesehatan tidak mungkin dipisahkan dengan soal nonkesehatan, baik ekonomi maupun sosial budaya. Dan justru  inilah yang mestinya harus diperhatikan pemerintah dalam mencapai MDG. (*)

Dokter RSUD Ulin Banjarmasin














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEDOMAN SEBELUM KOMENTAR
Kami sangat senang atas semua tanggapan anda terhadap artikel yang kami muat bangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, segera laporkan ke Admin kami.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar

 

Arsip Blog

Friends Blog

Copyright © 2011. Berita Aneh Unik Dunia - All Rights Reserved
Template Created by MybloG
Proudly powered by Blogger