Tenun Didaftarkan ke UNESCO

Baca Juga
- Status Palestina Kini
- Kematian Masih Membayangi Persalinan
- Noah Raih Award, 'Sahabat Kalsel' Girang
- Ganang Cs Siap Ikuti Lomba Melukis Kolektif Pelajar Nasional 2012
- Perdamaian Hanya Sesaat
- Garuda" Siap Cakar "Harimau Malaya"
BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Para pecinta tenun yang tergabung dalam Cita Tenun Indonesia (CTI) mendaftarkan kain khas Indonesia ini ke United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya.
"Kami sudah mengusulkan ke pemerintah agar tenun didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda," ujar Okke Rajasa sebagai Ketua Cita Tenun Indonesia.
Hal ini merupakan salah satu bentuk penyelamatan warisan budaya Indonesia. Tenun yang telah didaftarkan adalah Tenun Ikat Sumba. Karena tenun yang berasal dari Nusa Tenggara Timur memiliki tiga jenis teknik penenunan, yaitu ikat, datar, dan songket.
"Karena ini menyangkut warisan budaya, jadi ada proses verifikasi sampai Juli 2013," lanjut Okke dalam peluncuran buku Woven Indonesia Textiles for The Home.
Tenun, lanjut Okke, tak hanya digunakan dalam upacara dan busana adat, tetapi juga dapat digunakan untuk kebutuhan fashion dan interior. Hanya saja pengaplikasian, pengolahan, serta pengolahannya memiliki perbedaan. Meski ada keterbatasan menyangkut motif pakem tertentu.
Hal tersebut juga diakui oleh Roland Adam selaku desainer interior. Tenun interior membutuhkan ketebalan dan lebar tertentu, penyesuaian motif, dan warna, serta dibutuhkan ketahanan kain agar tidak mudah luntur ketika dicuci.
"Untuk interior, tenun bisa dipakai untuk panel, korden, sarung batal, taplak meja, dengan motif disederhana. Benang emas nggak bisa dijadiakan korden, kerena mahal," tambah Roland Adam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
PEDOMAN SEBELUM KOMENTAR
Kami sangat senang atas semua tanggapan anda terhadap artikel yang kami muat bangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, segera laporkan ke Admin kami.
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.
Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar