Presiden Minta Pimpinan Daerah Tak Remehkan Konflik Sosial

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Baca Juga
- Keluarga Guru Tewas Tenggelam Diberi Beasiswa Pendidikan
- Dewi Regita Ternyata Dibunuh Pacarnya Sendiri
- Boyz II Men Hingga Rossa Digarap Bebi Romeo
- Inilah Kisah Kehidupan Sesudah Pensiun Jadi Atlet
- Tujuh Persen Warga Jakarta Pengguna Narkoba
- Awal Desember Maria Selena Ikuti Miss Universe 2012 di Las Vegas
BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta kepada seluruh kepala daerah serta pimpinan aparat penegak hukum agar tidak meremehkan konflik yang terjadi di daerah masing-masing. Presiden meminta mereka menyelesaikan permasalahan itu sampai tuntas.
Hal itu dikatakan Presiden saat memberikan pengarahan kepada gubernur, bupati/walikota, kepala polda, kepala polres, panglima kodam, dan komandan korem seluruh Indonesia di Hotel Sahid Jakarta, Jumat (30/11/2012).
Menurut Presiden, kadang pimpinan daerah menganggap konflik horizontal selesai setelah mengadakan pertemuan dengan pihak-pihak terkait. Hal itu merupakan sikap yang meremehkan. Padahal, menurut Presiden, penyelesaian tidak cukup hanya dengan sekali pertemuan.
"Underestimate itu bom waktu. Mesti dikawal, dikelola sampai betul-betul tidak ada lagi. Sikap menganggap semua sudah baik inilah kelalaian kita yang sering terjadi. Dikira sudah selesai, kenyataannya belum. Malah muncul lebih parah lagi," kata Presiden.
Presiden meminta agar para kepala daerah dan pimpinan aparat penegak hukum, khususnya di tingkat kabupaten/kota ke bawah lebih sensitif terhadap situasi di wilayah masing-masing. Deteksi dini dinilai ampuh untuk mencegah terjadinya konflik.
Presiden menambahkan, pimpinan daerah juga harus terus menjaga kerukunan di tengah masyarakat sepanjang tahun. Pimpinan agama, pimpinan adat, dan tokoh masyarakat diminta dilibatkan. "Jangan baru berkumpul setelah ada kejadian," pungkas dia.
Seperti diberitakan, belakangan ini kerap terjadi bentrokan antarwarga di sejumlah daerah. Terakhir, bentrok yang terjadi di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sebelumnya, konflik sosial juga terjadi di Lampung Selatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
PEDOMAN SEBELUM KOMENTAR
Kami sangat senang atas semua tanggapan anda terhadap artikel yang kami muat bangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, segera laporkan ke Admin kami.
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.
Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar