Kak Seto Sambangi Korban Aniaya Ibu Tiri
Almarhumah Ainy Yudistisia (baju kuning), bersama kakaknya Tiara Amanda (8). Bocah berusia empat tahun itu tewas setelah mengalami penyiksaan ibu tirinya.
Baca Juga
- Pencuri di Juai Beraksi Lagi Korban Rugi Rp 50 Juta Lebih
- Wartawan Harian Metro Tewas dengan 10 Mata Luka
- Oknum Wartawan Tega Aniaya Nenek Renta
- Kerusuhan Adonara Minta Satu Korban
- Pelatih Espanyol Korban Keganasan Liga BBVA
- Korban Rampok Disuruh Istigfar Oleh Pelakunya
BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Seto Mulyadi atau Kak Seto mengunjungi Tiara Amanda (8), kakak kandung dari Ainy Yunistisia (4), bocah yang tewas setelah dianiaya ibu tirinya. Pemerhati hak anak itu ingin membantu penyembuhan gangguan mental yang kemungkinan dialami Tiara.
"Kak Seto baru saja kembali. Dia nengok cucu saya, Tiara, karena Tiara ikut mengalami tekanan dan cara didik keras yang dilakukan ibu tiri mereka," kata Tobiin (48), kakek korban saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Jalan Gandaria 1 No 10A, RT 10 RW 2, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (1/12/2012) pagi.
Dia mengatakan, Kak Seto berada di kediamannya selama hampir setengah jam, sejak pukul 08 pagi. Kak Seto, kata dia, menjanjikan tim Satgas Anak akan datang dan memberikan pendampingan pada Tiara.
"Katanya nanti sore atau besok tim satgas akan kemari untuk membantu penyembuhan mental cucu saya," kata Tobiin yang berprofesi sebagai sopir pribadi.
Menurut Tobiin, Tiara menjadi saksi kekerasan Nurlena terhadap adik kandungnya. Ia juga mendapatkan perlakuan kasar serupa. Karena itu, trauma yang ditimbulkan perlu disembuhkan.
"Kata Kak Seto, memori anak itu masih bisa merekam semua kejadian dengan jelas. Itu bisa menjadi trauma berkepanjangan. Karena itu, cucu saya perlu pendampingan," kata ayah dua anak itu.
Ibu kandung Tiara dan Ainy, Agusdiana Ekawati (28) mengatakan, kedua putrinya sudah hampir setahun menetap bersama Nahnu Hadi Saputra (39), ayah kandung mereka, dan Nurlena (26), ibu tiri mereka. Sejak itu mereka tidak bisa lagi bertemu kedua anak tersebut. Ia hanya diizinkan menelepon.
"Perubahan fisik mereka sulit diketahui karena hampir setahun nggak boleh ketemuan. Jadi, anak-anak saya dipukuli atau disiksa pun saya nggak tahu," tutur Agusdiana.
Istri ke-3 Nahnu itu mengaku sudah berpisah selama setahun dengan suaminya. Pemeliharaan anak diserahkan kepada suami lantaran ia sendiri tidak memiliki pekerjaan. Ia menjelaskan, ia belum berpisah secara resmi dari suaminya. Perpisahan hanya dilakukan dengan pembicaraan lisan dan lantaran Nahnu sudah hidup bersama Nurlena.
"Kalau saya istri dengan pernikahan resmi. Tiga lainnya, termasuk Nurlena, katanya nikah siri saja! Tahun lalu, dia datang tengah malam dan bawa dua lembar kertas untuk minta ditandatangani. Isinya ternyata pernyataan cerai. Ya saya tolak, tidak saya tandatangani," kata Agusdiana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
PEDOMAN SEBELUM KOMENTAR
Kami sangat senang atas semua tanggapan anda terhadap artikel yang kami muat bangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, segera laporkan ke Admin kami.
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.
Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar