Masuk

Minggu, 02 Desember 2012

Daya Tahan






Daya Tahan







PEMERINTAH tampaknya sangat bangga atas kondisi ekonomi Indonesia yang memiliki daya tahan cukup tinggi menghadapi krisis dunia.

Negara-negara Eropa seperti Yunani bingung mencari dana talangan agar APBN nya tidak jebol. Krisis negeri ini sudah berkepanjangan sementara rakyatnya tidak mau diajak kompromi.

Di Spanyol orang memilih menghindari jalan tol untuk berhemat. Portugal kempas-kempis, Eropa terancam krisis kalau keadaan tidak berubah. IMF (lembaga donor internasional) pun perlu bantuan dana.

Bahkan Amerika Serikat yang adi daya di segala bidang tidak lepas dari penumpukan hutang yang dalam kampanye pemilihan presiden yang baru lalu menjadi salah satu topik kampanye lawan Barack Obama.

Pendeknya dunia dilanda resesi, yang ramai cuma bisnis transfer pemain sepak bola. Gajinya jorjoran, pemainnya bermewah-mewahan. Pemain asal Portugal Christiano Ronaldo bergaji lebih semiliar sehari, sementara pelatih Murinho digaji lebih 15,3 juta euro (lebih Rp 190 milyar) setahun.

Yang kelihatannya tak banyak gejolak memang Asia. Jepang, India dan Cina adalah negara-negara degan petumbuhan tertinggi. Mereka ibarat macan yang tidur akibat kekenyangan. Tapi kalau ada makanan lain datang akan dilahap juga.

Negara berkembang seperti Malaysia, Thailand, Vietnam bahkan Kamboja juga menikmati pertumbuhan ekonomi yang baik. Ekonomi dunia kini memang berada di Asia, bukan Eropa atau Amerika.

Indonesia juga mendapat pujian berbagai pihak di luar negeri karena pertumbuhannya yang melampaui 6 persen sehingga masuk kategori negara dengan masa depan yang baik. Ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi, banyak indikator pendukungnya.

Misalnya Indonesia menjadi pengekspor CPO (minyak sawit mentah) terbesar di dunia, saingannya hanya Malaysia. Indonesia juga menjadi salah satu pengekspor karet terbesar. Kayu gelondongan dari Indonesia terkenal di berbagai belahan dunia apakah itu hasil tebangan resmi atau curian, kita juga memiliki cadangan ikan luar biasa besarnya sampai banyak menarik minat pencuri.

Pendeknya dari ekspor hasil hutan dan perkebunan saja sudah sangat signifikan sumbangannya. Belum lagi kalau hasil laut, minyak, gas, pertambangan dan industri ditingkatkan, niscaya kita akan menjadi negara dengan ekonomi yang tidak kalah dengan negara-negara tetangga.

India dan Cina juga bangkit karena produk-produk dalam negerinya digenjot. Kita hanya jago untuk ekspor barang mentah, ibaratnya tinggal keruk, tebang dan angkut, tanpa nilai tambah.

***

Apakah rakyat menikmati semua itu, inilah masalahnya. Ketika harga CPO di luar negeri turun, petani berteriak. Dampaknya tentu pada daya beli rakyat yang menurun. Tapi para pengusaha sawit mengatakan penurunan harga CPO tidak ada dampak negatifnya bagi mereka.

Ya jelas saja, keuntungan mereka sudah berlimpah. Kalau ada dampak pasti mereka berteriak. Suasana tetap adem ayem karena petani yang jadi korban pertama tidak bereaksi, nrimo saja. Bagi mereka hidup susah itu sudah biasa. Tanaman gagal, harga anjlok adalah kawan dekatnya.

Industri juga sama saja, industri otomotif terus melambung dengan melahirkan berbagai tipe mobil dan motor sehingga jalanan jadi sempit karenanya. Untuk industri jenis ini proteksinya kuat karena tidak ada barang impor, kalau toh ada dalam kelas yang berbeda sehingga tidak berpengaruh terhadap pasar dalam negeri.

Tapi coba lihat industri kerajinan, mulai alas kaki seperti sepatu dan sandal, pakaian, keramik dan ratusan lagi lainnya, semua sudah dikuasai barang impor. Perajin sepatu Cibaduyut (Jawa Barat) yang sudah kesohor, kini harus menanggung derita karenanya.

Di desa-desa petani yang menanam padi dengan susah payah hanya menerima harga rendah, apalagi kalau pada saat yang bersamaan pemerintah mendatangkan beras impor. Di sana terlihat masih banyak penduduk yang miskin, mereka selalu menjadi korban pertama saat harga beras melonjak tinggi. Padahal mereka yang menanam padinya.

Daya tahan ekonomi pemerintah memang harus diakui ada tapi kata orang itu makro, dalam hitungan besar. Yang menikmati juga pemodal besar, seperti pengusaha sawit, batu bara, minyak dan konglomerat lain. Seberapa menetes ke bawah masih harus dipertanyakan.

Sebab, petani kita tetap saja sulit membeli pupuk, bibit, pestisida. Tenaga kerja tak pernah dihitung sebagai komponen biaya karena dikerjakan sendiri, kalau dihitung tentu semakin jauh saja apa yang disebut keuntungan.

Jadi tidak salah kalau pemerintah mengklaim memiliki daya tahan ekonomi yang tinggi, tapi sebenarnya daya tahan rakyat jauh lebih tinggi dan menakjubkan. (*)














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEDOMAN SEBELUM KOMENTAR
Kami sangat senang atas semua tanggapan anda terhadap artikel yang kami muat bangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, segera laporkan ke Admin kami.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar

 

Arsip Blog

Friends Blog

Copyright © 2011. Berita Aneh Unik Dunia - All Rights Reserved
Template Created by MybloG
Proudly powered by Blogger